Muaro Jambi.(Benuajambi.com)-Pemandangan tak lazim terlihat di Desa Talang Belido, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Senin 30 Maret 2026.
Sebuah keranda mayat digotong perlahan, membelah genangan air cokelat yang memenuhi lubang-lubang jalan layaknya kubangan kerbau.
Ratusan warga berjalan kaki menyusuri jalanan yang hanya sedikit menyisakan aspal. Namun, ini bukanlah prosesi pemakaman jenazah, melainkan sebuah aksi teatrikal protes keras warga terhadap kerusakan jalan yang telah terabaikan selama 14 tahun.
Bertajuk ‘Festival Jalan Seribu Lobang’, aksi ini menjadi simbol kekecewaan mendalam warga yang merasa dianaktirikan oleh Pemerintah Daerah sejak tahun 2012.
Kreativitas warga dalam meluapkan amarah terlihat dari berbagai aksi menyindir. Warga yang didominasi oleh emak-emak tampak berpura-pura mencari ikan di tengah lubang jalan yang menganga dan terisi air hujan.
Tak hanya itu, warga juga membentangkan spanduk bertuliskan ‘Selamat Datang di Festival Jalan Seribu Lobang’.
Di sepanjang jalur sepanjang satu kilometer, pohon-pohon pisang ditanam tegak lurus di tengah jalan sebagai penanda lubang sekaligus bentuk protes.
Pada batang pohon tersebut, tersampir kritik pedas yang ditulis di atas kardus, mulai dari tuntutan perbaikan hingga pesan yang dialamatkan langsung kepada Presiden RI, Prabowo Subianto.
Koordinator aksi, Mulyadi menegaskan, bahwa kesabaran warga sudah mencapai batasnya. Sejak tahun 2012 hingga kini, belum ada pembangunan berarti di wilayah mereka.
“Kami menuntut adanya perbaikan jalan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk jangka panjangnya, kami meminta pengecoran atau pengaspalan. Aksi ini adalah bentuk kesabaran yang sudah tidak tertahan,” ujar Mulyadi di sela-sela aksi.
Menurutnya, kondisi jalan yang rusak parah ini mencapai puluhan kilometer hingga ke Desa Ladang Panjang. Padahal, jalan ini merupakan urat nadi ekonomi bagi pengangkut hasil bumi sawit dan karet, serta akses utama kesehatan dan anak-anak menuju sekolah.
“Desa kami sudah seharusnya jadi prioritas. Penduduk kami lebih dari 10 ribu jiwa. Hasil bumi tinggi, dan banyak perusahaan besar melintas, termasuk BUMN Pertamina yang sudah ada sejak tahun 80-an,” tambahnya.
Kepala Desa Talang Belido, Fadli saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa aksi ini murni aspirasi warga yang ingin suaranya didengar oleh pemerintah pusat maupun daerah.
“Masyarakat ingin menyampaikan aspirasinya melalui kebebasan berpendapat. Harapannya, jalan ini secepatnya diperbaiki karena setiap hari dilalui warga dalam kondisi becek dan berlubang,” kata Fadli.
Lebih lanjut Kades Mengatakan Kami selaku Pemerintah Desa sudah berupaya mengajukan usulan setiap tahunnya melalui DURKP di Musrenbang Kecamatan terkait jalan kabupaten dalam wilayah Kami.
Saya pun sudah mengajukan proposal kepada dinas PUPR melalui bapak Bupati Muaro Jambi dan sudah mendapat respon melalui program GSL dan saat ini kami hanya tinggal menunggu giliran untuk perbaikan jalan yang sedang dilakukan didesa Ladang Panjang.”ungkapnya
Dalam aksi tersebut Warga memberikan tenggat waktu atau deadline selama satu minggu kepada pemerintah untuk memberikan respons nyata, meskipun hanya berupa perbaikan darurat atau tambal sulam.
Jika dalam tujuh hari ke depan tidak ada kepastian, warga mengancam akan menggelar aksi lanjutan jilid dua dengan massa yang lebih besar.
(Red)







