BUNGO, BENUAJAMBI.COM – Masyarakat Dusun Teluk Panjang, Kecamatan Bathin III, Kabupaten Bungo, mulai menyuarakan keresahannya terkait harga Gas LPG 3 Kg yang kian tak terkendali. Harga di tingkat pangkalan dan toko pengecer dilaporkan melonjak jauh di atas ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah daerah.
Salah seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa saat ini masyarakat harus merogoh kocek hingga Rp22.000 per tabung. Kondisi ini dirasa sangat memberatkan, mengingat gas melon tersebut merupakan komoditas subsidi yang diperuntukkan bagi warga kurang mampu.
Menurut sumber tersebut, kenaikan harga ini diduga kuat karena adanya “permainan” antara oknum pemilik pangkalan dengan pemilik toko atau pengecer. Alih-alih mendahulukan kebutuhan masyarakat miskin di sekitar pangkalan, pasokan gas justru diduga dialihkan kepada pihak toko untuk keuntungan pribadi.
“Harga regulasi sebenarnya jelas, hanya sekitar Rp17.000. Kalaupun ada kenaikan sedikit di angka Rp20.000, kami mungkin masih bisa memakluminya. Tapi kalau sudah sampai Rp22.000, ini sudah sangat keterlaluan dan menyalahi aturan,” cetusnya dengan nada kecewa. Kamis, (5/3/2026).
Ia menambahkan bahwa praktik ini seolah-olah mengabaikan fungsi utama subsidi energi. Gas yang seharusnya menjadi hak masyarakat miskin justru dijadikan komoditas bisnis oleh oknum pangkalan yang ingin meraup keuntungan lebih besar dengan cara bekerja sama dengan para pengecer.
Sejauh ini, pengawasan terhadap distribusi LPG 3 Kg di wilayah Dusun Teluk Panjang dinilai masih sangat lemah. Hal inilah yang diduga memberi celah bagi pangkalan untuk berbuat curang tanpa rasa takut akan sanksi dari pihak berwenang maupun pihak Pertamina.
Keresahan warga ini diharapkan dapat segera sampai ke telinga Pemerintah Kabupaten Bungo dan instansi terkait. Warga meminta agar dilakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pangkalan-pangkalan yang ada di Kecamatan Bathin III guna menertibkan harga dan jalur distribusi agar tepat sasaran.
Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa adanya tindakan tegas, dikhawatirkan beban ekonomi masyarakat kecil akan semakin terhimpit. Warga berharap ke depannya pangkalan dapat menjalankan fungsi distribusinya secara jujur dan transparan sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) yang berlaku.
Penulis : Rido Asran







