Keracunan MBG Massal di Jambi, Dapur Milik Yayasan Aziz Rukiyah Aminah Disetop

  • Whatsapp

MUARO JAMBI.(Benuajambi.com)-Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Jambi mendadak jadi sorotan menyusul insiden keracunan massal yang menimpa puluhan pelajar di Kecamatan Sekernan dan Sengeti, Kabupaten Muaro Jambi, Jumat (30/1/2026).

Hingga pukul 21.30 WIB, RSUD Ahmad Ripin Sengeti mencatat sedikitnya 104 orang mengalami gejala keracunan. Para korban berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA. Tak hanya pelajar, guru dan balita juga dilaporkan ikut terdampak.

Bacaan Lainnya

Dugaan sementara, keracunan disebabkan oleh menu soto yang disajikan dalam program MBG dan diproduksi oleh SPPG Sengeti.

Merespons kejadian tersebut, Satgas Pangan Provinsi Jambi langsung mengambil langkah cepat dengan menonaktifkan sementara SPPG Sengeti yang dikelola Yayasan Aziz Rukiyah Aminah.

Kepala Regional (Kanreg) Badan Gizi Nasional (BGN) Provinsi Jambi, Adityo, menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Muaro Jambi, Dinkes Provinsi Jambi, serta BPOM untuk melakukan uji laboratorium.

“Saat ini kita masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Yang diuji itu sampel makanan dan air,” kata Adityo, Sabtu (31/1/2026), di RSUD Ahmad Ripin.

Adityo menegaskan, insiden keracunan massal ini merupakan kasus pertama sejak program MBG dijalankan di Provinsi Jambi. Ia pun menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh siswa, wali murid, serta pihak lain yang terdampak.

“SPPG Sengeti kami hentikan sementara sambil menunggu hasil investigasi. Penyaluran MBG ke 28 sekolah yang dilayani SPPG Sengeti juga kami setop sementara,” ujarnya.

Terkait hasil pemeriksaan awal, Adityo enggan berkomentar lebih jauh dengan alasan proses investigasi masih berjalan. Namun, ia menegaskan bahwa seluruh SPPG yang beroperasi di Jambi telah mengantongi sertifikasi Laik Higiene Sanitasi.

“Semua yang operasional itu sudah menggunakan sertifikasi Laik Higiene Sanitasi. Jadi secara standar sudah sesuai,” katanya.

Meski demikian, Adityo mengakui kemungkinan adanya pelaksanaan SOP yang tidak berjalan optimal di lapangan.

“Bukan sertifikasinya yang diragukan, tapi ada pelaksanaan SOP yang kurang berjalan dengan baik,” tegasnya.

Ia juga mengungkap adanya laporan bahwa sebagian pelajar membawa pulang jatah MBG untuk dikonsumsi bersama keluarga, serta guru yang ikut mencicipi makanan tersebut.

Menurutnya, proses serah terima MBG seharusnya dilakukan kepada penerima manfaat yang telah terdata di sekolah.

“Kalau sudah diserahkan ke sekolah, pengelolaannya kembali menjadi tanggung jawab pihak sekolah,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Adityo menilai insiden ini sebagai kejadian yang sangat serius dan menjadi evaluasi besar bagi pelaksanaan MBG ke depan.

“Ini fatal. Kalau sudah ada yang terdampak, apapun itu fatal. Saya pribadi sebagai Kepala Regional memohon maaf atas kejadian ini,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *