JAMBI.(Benuajambi.com)- Pemberdayaan masyarakat adat menjadi bagian penting dalam komitmen keberlanjutan PT Sari Aditya Loka (SAL) guna mendorong kemandirian Suku Anak Dalam (SAD). Perusahaan telah memiliki pengembangan ekonomi berbasis kearifan lokal yang terintegrasi dengan aspek lingkungan. Langkah ini diharapkan mampu menjembatani kebutuhan masyarakat di wilayah terpencil sekaligus memperkuat pembangunan area rural yang inklusif.
Program yang dijalankan mencakup budidaya serai wangi, perikanan air tawar, hingga sistem pertanian terpadu yang mengkombinasikan ternak ayam KUB dan maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai pakan alternatif. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menekan biaya dan membuka peluang pendapatan baru.
Pada awal 2026, perusahaan juga menyerahkan 5.000 bibit ikan lele kepada kelompok masyarakat di Desa Bukit Suban sebagai bagian dari penguatan ekonomi desa berbasis budidaya. Model pemberdayaan ini dirancang berbasis pendampingan, mulai dari pelatihan teknis, penguatan kelembagaan kelompok, hingga pemanfaatan hasil produksi. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengelola dan mengembangkan usaha secara mandiri.
Selain itu, PT SAL membina kelompok kerajinan komunitas SAD yang memanfaatkan hasil hutan bukan kayu secara lestari, sekaligus menjaga keseimbangan antara ekonomi dan konservasi.
Di sektor lingkungan, perusahaan menyalurkan 600 bibit pohon jengkol di kawasan penyangga Taman Nasional Bukit Duabelas untuk mendukung keberlanjutan ekosistem dan manfaat ekonomi jangka panjang.
“Program ini dirancang agar masyarakat tidak hanya bertahan, tetapi mampu mandiri secara ekonomi dengan memanfaatkan potensi lokal secara berkelanjutan,” ujar Slamet Riyadi.
Pendekatan ini mempertegas pergeseran peran dunia usaha, dari sekadar pelaku ekonomi menjadi mitra pembangunan yang mampu mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan dalam satu kerangka keberlanjutan.







